cow ranchu

The Transformation of my Cow Ranchu (2019 – 2020)

As I mentioned before, I bought five cow ranchu from an importer in Indonesia (Jakarta Goldfish Centre). They came from De Quan Farm in Fu Zhou, China. Only one male survives until now and he has been my favorite so far. One amazing feature of the fish is the growth of its black pigment. When I compared the fish before and after, I can hardly recognize him. So, it is confirmed that the black pigment in cow ranchu can grow.

This is the picture taken on December 2019:

And this is him in October 2020:

Marvelous, isn’t he?

However, the growth of the black pigmentation on the offspring is quite challenging. Until now (almost 4 months old), the black pigment does not seem to grow at all. Most of the offspring are white with some black spots underneath the transparent scale, which look like bluish or shadowy color. I am hoping that the black pigment can come out to the outer layer of the transparent scale. Some people reported that it usually happens late on the fish. Hopefully they are correct. The rest of the offspring resemble calico. I will post their pictures on the next posting.

Feel free to share what you think about the transformation of this cow ranchu on the comments below 😊 Thank you.

Standard
kinranshi

Kinranshi version 2.0

In my previous attempt, I crossed topview ranchu (Andou line) with wakin. I called the offspring Kinranshi since they looked similar to the Kinranshi goldfish type I saw in a book. I already made a post about that project.

Now, to move the project forward, I crossed the Kinranshi back to topview ranchu. I used three lines such as Andou, Kudou / Murakami (the seller was not sure about the line of this particular fish), and my own line (forgot to record). The results are varied. They are not yet conformed to the standard of topview ranchu, so I called them Kinranshi version 2.0.

Some of them are thin and long, some have thickness on their backbone, and some are shorter. Some have collapsed tail and some have wide-spread tail. The head growths are also varied. I am glad to see these rich variations. It triggers my imagination how to direct the next development of them.

Here are the Kinranshi 2.0:

Standard
kehidupan dalam air

Beningnya Batin

Itu pertama kali aku jatuh cinta pada kehidupan di dalam air!

               Pamanku, yang waktu itu masih muda, punya piaraan baru. Ia mengajakku datang melihat-lihat piaraannya itu. Di lorong sempit yang dia jadikan taman itu, aku melihat sebuah jedingan bekas copotan dari kamar mandi yang dijadikannya tempat memelihara ikan. Wadah dari semen itu sebenarnya kecil saja, tapi bagiku yang belum genap berusia sepuluh tahun, jedingan itu terasa besar sekali. Aku melongok ke dalamnya dan tiba-tiba aku menemukan sebuah dunia lain. Sebuah dunia yang begitu bening! Aku bisa melihat pasir hitam yang ada di dasarnya. Ikan-ikan kecil beraneka jenis sibuk berenang di antara beragam tanaman air yang ada di dunia lain itu. Ada yang berkejar-kejaran, ada yang sibuk mencari makan di sela-sela daun atau di dasar, dan ada pula yang bersembunyi di balik bebatuan mungkin sedang bermain petak umpet dengan temannya. Seakan ikan-ikan itu tidak peduli pada kisah dan keluh kesah dunia manusia. Mereka punya kisah mereka sendiri. Berbagai perasaan berkecamuk dalam jiwa kecilku. Aku belum pernah merasakan kesegaran seperti ini. Pada saat itulah, aku jatuh cinta pada kebeningan itu.

               Aku belum mengerti tentang ikan pada waktu itu. Bahkan aku sempat menanyakan ini ikan air laut atau air tawar. Pertanyaan yang bodoh, mana mungkin guppy, neon, dan platy dipiara di air laut! Aku ingat pamanku menangkap seekor ikan gepeng transparan untuk ditunjukkan padaku. Namanya ikan kaca, katanya. Ikan tersebut bening seperti kaca, sehingga kelihatan tulang-tulang badannya. Tidak ada ikan koki di sana. Perjalananku sampai mencintai ikan koki masih panjang.

               Singkat cerita, setelah aku lulus kuliah, aku tinggal di surabaya. Orang tuaku membelikanku sebuah rumah. Aku beruntung memiliki seorang ayah yang merasa kewajibannya baru selesai jika sudah menyediakan sebuah usaha lengkap dengan modalnya dan sebuah rumah bagi anak2nya. Aku bersyukur mendapatkan rumah itu, tapi aku tetap mengajukan syarat. Aku minta ada kolam di rumah itu. Ayahku mengerti. Dari kecil aku selalu minta seperti itu. Dahulu sepulang dari rumah pamanku pada pengalaman pertama jatuh cinta pada dunia dalam air, aku minta dibelikan ikan. Akhirnya, ketika penjual ikan pikulan lewat, aku dibelikan. Piara di mana? Di ember seadanya. Tak berapa lama ikan tersebut mati. Lalu suatu kali aku pulang dari gereja melewati pasar Splendid di Malang di mana orang menjual ikan berjajar-jajar. Di sana aku melihat ikan-ikan yang lucu dengan warna dan sirip yang menarik! Aku bertanya, ikan apa itu? Oh, itu ikan mas koki, kata penjualnya. Lucu sekali! Aku pulang dengan tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan ikan-ikan tersebut. Maka dimulailah perjalanan cintaku dengan ikan mas koki. Lambat laun, melihat aku suka memelihara ikan, papaku membelikanku sebuah aquarium kecil, yang karena tidak ada raknya, ditaruh di lantai. Aku suka tidur di lantai di depan aquarium itu sambil memandangi ikan-ikan mas kokiku. Aku rajin mengurasnya, bahkan pernah membuat ayahku marah karena aku memilih malam-malam menguras aquarium ketimbang belajar untuk ulangan sekolah besok.

kenangan ikan mas koki mutiara masa kecilku

Aquarium kecil, berubah menjadi aquarium besar. Semua pekerjaan menguras aku kerjakan sendiri. Aku ingat ikan favoritku adalah mutiara ekor panjang yang pernah kulukis. Sampai sekarang kental sekali ingatanku akan ikan itu. Aku juga pernah punya oranda yang warna merah dan putihnya cemerlang sekali! Entah pikiranku yang membesar-besarkan keindahannya atau memang ikan seperti itu pernah ada, sampai sekarang aku jarang melihat warna seindah itu. Padahal belinya di pasar ikan murah-murah. Ketika ayahku mendapat rejeki dalam bisnisnya dan bisa membangun rumah baru, ia membuatkan sebuah kolam untukku. Itulah pertama kalinya aku punya kolam sendiri. Waktu itu aku belum mengerti tentang filter, jadi kolam itu tidak memiliki filter sama sekali. Dan setelah aku lulus kuliah, bekerja di Surabaya, diberi hadiah sebuah rumah, aku pun membuat sebuah kolam juga di rumah baruku. Agaknya aku tidak bisa hidup tanpa kehadiran sebuah kolam.

               Namun aku mengalami masalah.

               Kolamku keruh. Sekeruh pikiranku pada saat itu.

               Sudah kuupayakan segala cara yang aku bisa, tetap saja demikian. Aku sampai merasa putus asa. Setelah aku kuras, beberapa hari kemudian keruh lagi. Apakah ikan koki tidak boleh dicampur dengan ikan manfish? Rasanya bukan karena itu. Tiap hari aku lihat, apakah debu-debunya sudah mengendap dan kolamku sudah menjadi bening, tapi tak kunjung bening juga.

               Kebetulan pada saat itu aku baru lulus kuliah. Ketika aku melihat masa depanku, aku tidak bisa melihat apa-apa. Keruh. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dalam hidup ini. Aku tidak tahu bisnis yang diwariskan oleh ayahku ini apakah bisnis yang tepat untukku. Aku tidak tahu apakah pacarku ini calon istri yang tepat untukku. Aku tidak tahu! Aku tidak tahu! Semua terasa begitu keruh! Aku berusaha menenangkan diriku. Aku mencoba mengendapkan semua debu pemikiran itu dalam batinku. Tapi dalam ziarah ke dalam itu, aku hanya menemukan sebuah kolam butek. Bertahun-tahun aku dalam kondisi seperti itu. Oh, betapa inginnya aku lari mencari kolam jedingan yang kulihat di masa kecilku itu dan duduk menikmati kebeningannya lagi! Mungkin dengan begitu semua kekeruhan dalam batinku akan berangsur-angsur menjadi jernih. Mungkinkah kekeruhan hatiku membuat kolamku tidak bisa bening?

               Aku terus berdoa. Aku terus memohon. Aku meminta batin yang bening dan pikiran yang jernih. Aku ingin dibebaskan dari rasa keruh hati ini. Aku pegang ayat yang mengatakan bahwa kebenaran akan membebaskan. Maka aku membaca banyak buku, mengikuti banyak seminar, dengan harapan bahwa aku akan menemukan kebenaran itu. Capek sekali hidup dalam kondisi keruh batin!

               Suatu saat aku browse internet, yang mana itu masih sebuah luxury di jaman itu. Aku menemukan artikel tentang sistem filter yang menirukan filtrasi di alam. Aku sangat tertarik. Dan aku mulai menerapkannya. Alhasil, kolamku pun menjadi bening! Aku harap ada suatu sistem atau cara seperti itu yang bisa kulakukan dan membuat batinku pun menjadi bening.

               Dalam kehidupan pribadiku, aku belajar untuk jujur pada diri sendiri. Aku menuliskan pikiran-pikiranku, perasaanku, dan apa saja yang ada dalam diriku dalam berlembar-lembar kertas dan berhalaman-halaman microsoft word. Aku harap ini membantuku menjernihkan pikiranku. Setiap akhir tahun aku melakukan tulisan refleksi atas diriku sendiri, dan membuat rencana-rencana pribadi. Dan seiring dengan perjalanan waktu, banyak hal menjadi jelas bagiku. Sekarang, meski pikiran dan batinku belum sejernih dan sebening kristal, namun sudah banyak bagiannya yang menjadi terang. Dan aku bersyukur untuk itu. Sampai tahap tertentu, aku telah menemukan kebebasan jiwa.

               Batin yang bening. Ada yang peduli?

Hermanto 22 Mei 2018

Standard